Intan Jaya, Umat Katolik dari sejumlah paroki di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, menggelar pawai keliling Kota Sugapa untuk memperingati 74 tahun masuknya Injil di wilayah Kemandoga dan Dugindoga, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenang jasa para misionaris sekaligus memperkuat persaudaraan, iman, dan semangat perdamaian di tengah masyarakat.
Pawai yang berlangsung pukul 09.30 hingga 11.45 WIT tersebut diikuti umat Paroki Santo Mikael Bilogai bersama umat dari Paroki Mbugulo, Bilia, Titigi, dan sejumlah wilayah lainnya. Sepanjang perarakan, peserta melantunkan nyanyian rohani, berdoa, dan mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan panjang pewartaan Injil di tanah Intan Jaya.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan menjelang puncak peringatan 74 tahun masuknya Injil di Kemandoga dan Dugindoga yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (18/10/2026).
Mengenang Sejarah Pewartaan Injil di Intan Jaya
Perarakan dimulai dari Bandara Bilogai setelah umat menjemput Pastor Paroki Santo Mikael Bilogai sekaligus Dekan Dekenat Moni–Puncak Jaya, P. Yanuarius Yance W. Yogi, Pr. Rombongan kemudian menuju halaman Gereja Santo Mikael Bilogai sebelum melanjutkan pawai mengelilingi ibu kota Kabupaten Intan Jaya tersebut.
Sebelum kegiatan dimulai, Pastor Yanuarius memimpin doa pembukaan. Dalam doanya, ia memohon penyertaan Roh Kudus bagi seluruh umat serta meminta bimbingan agar masyarakat tetap menghargai jasa para pendahulu yang telah menerima dan mewartakan Injil.

“Kami mohon, utuslah Roh Kudus-Mu kepada kami semua, umat di tanah ini. Juga tuntunan dan bimbingan dari orang-orang yang berjasa di tempat dan tanah ini, terutama Pastor Missael Kammarer, para misionaris, orang tua, dan leluhur yang telah menjaga dan menerima terang di tanah ini,” demikian doa yang disampaikan Pastor Yanuarius.
Peringatan tersebut secara khusus mengenang karya misi Pastor Missael Kammarer, OFM, yang menjadi bagian penting dalam sejarah masuknya Injil di wilayah Kemandoga dan Dugindoga.
Bagi umat setempat, perjalanan sejarah tersebut tidak hanya berkaitan dengan perkembangan kehidupan Gereja Katolik, tetapi juga menjadi bagian dari warisan iman yang diteruskan dari generasi ke generasi.
Panitia Tekankan Pawai sebagai Perayaan Iman
Panitia pelaksana mengingatkan peserta agar menjaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanan selama mengikuti kegiatan. Umat juga diajak memaknai pawai sebagai ungkapan iman dan rasa syukur, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Missael Sondegau, salah satu koordinator perlengkapan, menegaskan pentingnya menjaga suasana rohani selama perarakan berlangsung.
“Kami minta dan harapkan agar tolong jaga keamanan dan kenyamanan dalam perjalanan. Mohon umat pawai dan berjalan dalam doa dan nyanyian rohani. Ini pesta iman di daerah ini, bukan pesta adat dan budaya,” ujarnya.
Menurut panitia, keterlibatan umat dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat penghayatan iman sekaligus mendorong tanggung jawab bersama dalam menjaga kehidupan menggereja.
Yulius Sondegau, S.IP, salah satu panitia, mengatakan kehadiran para misionaris membawa perubahan penting dalam kehidupan rohani masyarakat di wilayah tersebut.
“Misionaris, terutama Pastor Missael, membawa terang untuk kita umat yang ada di Dugindoga, Kemandoga, terutama semua suku yang ada di Intan Jaya ini,” kata Yulius.
Ia mengajak seluruh umat Kristen dan Katolik untuk berpartisipasi dalam perayaan puncak yang telah dijadwalkan.
“Mari kita bergabung semua,” ujarnya.
Perkuat Persaudaraan dan Harapan Perdamaian
Selain mengenang sejarah Gereja, peringatan 74 tahun masuknya Injil juga menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antarsuku dan antarparoki di Kabupaten Intan Jaya.
Di tengah tantangan keamanan yang kerap dihadapi wilayah tersebut, kebersamaan umat dalam doa dan nyanyian rohani diharapkan menjadi pengingat akan pentingnya kasih, pengampunan, penghormatan terhadap sesama, serta komitmen membangun perdamaian.
Semangat tersebut dinilai penting agar warisan para misionaris, pastor, suster, orang tua, dan leluhur tidak berhenti pada perayaan tahunan, tetapi diwujudkan melalui pelayanan, kepedulian sosial, dan kehidupan bermasyarakat yang saling menghormati.
Partisipasi umat dari berbagai paroki dalam pawai di Sugapa memperlihatkan bahwa peringatan sejarah pewartaan Injil merupakan tanggung jawab bersama. Kebersamaan itu diharapkan terus terpelihara dalam kehidupan keluarga, lingkungan Gereja, dan masyarakat luas.
Perayaan Berlanjut hingga 19 Oktober
Rangkaian peringatan 74 tahun masuknya Injil di Kemandoga dan Dugindoga akan dilanjutkan dengan perayaan puncak pada Minggu (18/10/2026). Agenda tersebut sekaligus menjadi momentum peringatan 10 tahun imamat P. Yanuarius Yance W. Yogi, Pr.
Selanjutnya, pada Senin (19/10/2026), umat dijadwalkan mengikuti kegiatan bakar batu dan makan bersama sebagai ungkapan syukur sekaligus sarana mempererat persaudaraan.
Panitia mengharapkan partisipasi aktif seluruh umat dalam rangkaian kegiatan tersebut dengan tetap menjaga ketertiban dan suasana kebersamaan.
Melalui peringatan ini, umat diharapkan terus merawat warisan iman dan menerjemahkan nilai-nilai Injil ke dalam tindakan nyata, sehingga persaudaraan, kepedulian, dan perdamaian semakin kuat dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Intan Jaya.
[Nabire.Net/Karpus Belau]
