Nabire, Persiapan Papua Reggae Festival (PRF) Ke-XI yang akan berlangsung pada 16–17 Oktober 2026 di Nabire, Provinsi Papua Tengah, telah mencapai 85 persen. Panitia kini memprioritaskan penyelesaian sejumlah kebutuhan teknis dan koordinasi antarbagian menjelang pelaksanaan festival musik reggae tersebut.
Perkembangan persiapan itu disampaikan dalam pertemuan evaluasi panitia yang berlangsung pada Senin (12/10/2026) pukul 19.00 WIT di Sekretariat PRF-XI, Asrama Kangguru, Jalan Manado, Karang Mulia, Nabire.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh kebutuhan kegiatan dapat diselesaikan sesuai target sebelum festival dimulai. Masing-masing koordinator menyampaikan laporan perkembangan pekerjaan sekaligus mengevaluasi hal-hal yang masih perlu dituntaskan.
Dengan waktu pelaksanaan yang tinggal beberapa hari, panitia berupaya memperkuat komunikasi dan kerja sama agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan sesuai rencana.
Panitia Perkuat Koordinasi Menjelang Festival
Ketua Panitia Papua Reggae Festival XI, Ema Kristina Dogomo, S.H., sebelumnya telah mengundang seluruh anggota panitia untuk menghadiri pertemuan evaluasi tersebut.
Dalam agenda itu, setiap koordinator memaparkan perkembangan persiapan berdasarkan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui bagian yang telah rampung sekaligus mengidentifikasi kebutuhan yang masih harus diselesaikan.
Panitia berharap seluruh anggota tetap menjaga kekompakan dan meningkatkan koordinasi selama tahap akhir persiapan. Penyelesaian pekerjaan sesuai tenggat waktu menjadi perhatian utama agar pelaksanaan festival pada 16–17 Oktober mendatang tidak terkendala oleh persoalan teknis yang masih dapat diantisipasi.
Capaian persiapan sebesar 85 persen menjadi gambaran perkembangan pekerjaan panitia hingga Senin, 12 Oktober 2026. Sementara itu, sisa persiapan akan difokuskan pada penyelesaian berbagai kebutuhan yang belum rampung.
Bukan Sekadar Festival Musik
Ema Kristina Dogomo menegaskan bahwa Papua Reggae Festival memiliki makna lebih luas daripada sekadar pertunjukan musik. Menurutnya, festival ini merupakan ruang untuk mempererat persaudaraan, memperkuat persatuan, serta menyampaikan pesan perdamaian melalui musik reggae.
“Musik reggae bukan sekadar irama, tetapi suara persaudaraan, semangat persatuan, dan pesan perdamaian. Dari Nabire, Papua Tengah, kita satukan perbedaan dalam satu irama, satu semangat, dan satu tujuan. Mari menjaga budaya, merawat persaudaraan, serta menyuarakan kedamaian melalui musik reggae,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu landasan penyelenggaraan PRF-XI. Melalui musik, panitia ingin menghadirkan ruang pertemuan yang dapat mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam suasana kebersamaan.
Semangat itu juga tercermin dalam tema yang diusung, yakni “Papua Reggae Festival XI — Satu Irama, Satu Persaudaraan, Satu Papua.”
Tema tersebut menekankan pentingnya menjaga hubungan antarmasyarakat, merawat persaudaraan, serta membangun semangat persatuan melalui kegiatan seni dan budaya.
Diharapkan Jadi Ruang Kebersamaan Masyarakat
Penyelenggaraan Papua Reggae Festival XI di Nabire diharapkan dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat dan pencinta musik reggae untuk berkumpul, menikmati pertunjukan musik, sekaligus merayakan keberagaman.
Selain menghadirkan hiburan, festival ini membawa pesan sosial mengenai pentingnya menjaga kedamaian dan membangun hubungan yang harmonis di tengah perbedaan.
Bagi masyarakat Papua Tengah, kegiatan seni dan musik dapat menjadi salah satu ruang untuk mengekspresikan identitas budaya sekaligus menyampaikan pesan positif kepada masyarakat luas.
Meski demikian, keberhasilan pelaksanaan festival tetap bergantung pada kesiapan seluruh unsur penyelenggara dalam menuntaskan pekerjaan yang tersisa. Karena itu, panitia terus mendorong setiap koordinator dan anggota untuk bekerja sesuai tanggung jawab masing-masing.
Dengan persiapan yang telah mencapai 85 persen, panitia berkomitmen memaksimalkan waktu yang tersedia sebelum hari pelaksanaan.
Papua Reggae Festival Ke-XI dijadwalkan berlangsung pada 16–17 Oktober 2026 di Nabire, Provinsi Papua Tengah. Festival ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan dan menyuarakan perdamaian melalui musik reggae dari Papua Tengah.
[Nabire.Net/Marten Dogomo]
